What is most important to me?

Kalau ditanya, apa yang paling penting untukmu? Sebagian orang mungkin akan merasa bingung untuk menjawab, sebagian lagi akan mantap memberikan jawaban, namun ketika ditanya mengapa hal itu penting untukmu, ia akan berpikir ulang dan kemudian merasa ragu-ragu, apakah benar hal itu adalah yang paling penting untuknya?

Ketika pertanyaan ini terlontar di pikiranku, aku pun tidak tahu harus menjawab apa. Namun setelah berpikir beberapa saat, buatku yang terpenting adalah “Hidup”.

Mengapa “hidup”? Karena hidup ini adalah kesempatan. Tuhan memberikan kita hidup untuk memberikan kesempatan kepada kita berbuat yang terbaik bagi diri kita sendiri dan juga orang-orang di sekitar kita. Ada satu istilah yang sering diucapkan oleh orang-orang yang menghargai kesempatan yaitu “sekali seumur hidup”. “Sekali seumur hidup” karena semua orang di dunia ini percaya bahwa kita tidak akan pernah lagi bisa hidup di dunia yang sama. Bila saatnya kita harus meninggalkan dunia ini, kita akan kembali hidup di dunia yang lain. Tapi, kita tidak akan pernah benar-benar hidup kembali di dunia yang sama. Everything will be change.

Detik ini juga aku mencoba untuk membayangkan, apa yang akan terjadi bila semua orang memiliki pandangan yang sama denganku? Bahwa yang terpenting untuknya adalah “Hidup”? “Hidup” yang cuma sekali ini. Sekali di dunia ini. Aku yakin bahwa dunia ini akan lebih damai, karena setiap orang akan berusaha untuk menggoreskan cerita terbaiknya di hidup yang cuma sekali ini. Bahwa setiap orang akan menghargai satu dengan yang lainnya, karena tahu dengan pasti bahwa “hidup” ini adalah yang terpenting bagi setiap orang.

Sekali lagi, hidup ini adalah kesempatan. Setiap hari dalam hidup ini adalah kesempatan. Berapa banyak lagi jumlah hari yang akan kita sia-siakan?

Mulailah untuk melakukan yang terbaik bagi dirimu dan untuk orang-orang di sekitarmu. Apabila kamu seorang pelajar, seraplah ilmu dengan sebaik-baiknya dan ajari mereka yang masih butuh bimbingan. Apabila kamu seorang pekerja, bekerjalah dengan rajin dan produktif dan berlakulah baik dengan rekan kerjamu. Apabila kamu seorang istri, layanilah suami dan anak-anakmu dengan sepenuh hati. Apabila kamu seorang suami, berusahalah memberikan yang terbaik untuk kehidupan istri dan anak-anakmu. Apabila kamu seorang ayah, jadilah teladan hidup yang baik untuk dicontoh oleh anak-anakmu. Apabila kamu seorang ibu, rawatlah anak-anakmu dengan baik dan ajari mereka untuk menghargai hidup. Apabila kamu seorang anak, perlakukan orangtuamu dengan baik, jangan pernah lupa bahwa seumur hidup orangtuamu, banyak hal yang telah mereka korbankan hanya untuk melihat kamu bisa hidup di dunia ini dengan baik. Apapun peranmu di dunia ini, hidupilah peran itu dengan baik.

Dan ingat untuk selalu melibatkan Tuhan. Karena Ia-lah yang memberikan kita nafas kehidupan…

With Love,

Vivin Vivian

 

Versi Terbaik Mereka, Orang-Orang Yang Kusayangi…

Saat memutuskan untuk meniti karier di Jakarta, perasaanku campur aduk, ada rasa takut, khawatir, namun di sisi lain tetap merasa senang dan bersemangat. Agustus 2013, aku menjejakkan kakiku di ibukota, bersama ratusan bahkan mungkin ribuan pendatang menelusuri celah demi celah kota Jakarta, mencari sisa-sisa lowongan pekerjaan yang tersedia.

Lelah memang, namun harapan itu ada, karena cukup yakin dengan kompetensi yang dimiliki. Empat tahun bergelut di universitas, lumayan membuat rasa percaya diri itu tumbuh. Nekat? Yah bisa dikatakan begitu. Mengantongi izin dari orangtua yang belum sepenuhnya mau melepaskan dan berkat uang tabungan yang telah dikumpulkan sejak lama, membuatku pergi merantau tanpa harus membebani dompet orangtua.

Tidak butuh waktu lama untuk mengisi satu dari lowongan yang ada, aku pun diterima di sebuah perusahaan swasta sebulan kemudian. Bukan perusahaan besar, tapi aku menyukai jenis pekerjaannya. Terburu-buru? Ya, tawaran datang dan aku pun lantas menerima, tanpa pikir panjang. Aku hanyalah seorang fresh graduate tanpa pengalaman profesional apapun, aku merasa pada saat itu, tak perlu lah aku menjadi seorang yang terlalu pemilih. Kesempatan tidak datang dua kali, begitu pikirku.

Kabar diterimanya aku di perusahaan tersebut, juga akhirnya menyakinkanku bahwa aku harus siap tinggal di Jakarta. Sebelum memutuskan berangkat, aku memang sudah menargetkan diri sendiri untuk segera mendapatkan pekerjaan dalam waktu satu bulan. Tabungan yang tidak seberapa banyak mungkin hanya cukup untuk aku tinggal selama tiga bulan, yah walaupun sebenarnya aku tidak perlu terlalu khawatir karena Papah selalu siap untuk memenuhi segala kebutuhanku apabila aku kekurangan. Aku bersyukur bahwa Tuhan merestui permohonan yang kulantunkan dalam doa-doaku kepada-Nya. Targetku pada saat itu tercapai, dan aku mampu melakoni apa yang menjadi tugasku dalam pekerjaanku dengan baik hingga saat ini.

Malam sebelum hari pertamaku bekerja, aku teringat dengan orang-orang di sekitarku, yang selalu mendukung apa yang menjadi keputusanku. Aku kemudian menuliskan versi terbaik dari mereka melalui tweet-tweet singkat di akun twitter-ku.

***

“Ibu terbaik adalah ia yang sesungguhnya tidak sanggup berpisah dengan anaknya… tapi bangun lebih pagi untuk membangunkannya dan membuatkannya sarapan di hari keberangkatannya…”

“Ayah terbaik adalah ia yang menganggap kita masih gadis kecil kesayangannya namun tak dapat memungkiri kedewasaan kita dalam meraih cita-cita… :)”

“Orangtua itu… selalu memberikan dukungan yang terhebat bagi anaknya meski berat untuk melepasnya… makasih banyak yah Pah.. Mah.. :’)”

“Kakak terbaik itu meski merasa kesepian ditinggal adiknya tapi masih mengantar dengan senyuman… makasih kakakku sayang… :’)”

“Adik yang terbaik itu adalah ia yang selalu kecil dalam ingatan.. membuat kita tersenyum bila ingat tingkah lucunya.. dan rindu kembali menjadi anak-anak… :)”

“Bue (baca : kakek) yang terbaik itu adalah ia yang meskipun telah tiada tapi kesan hangatnya tidak pernah lenyap dari ingatan kita… :)”

“Tambi (baca : nenek) terbaik itu adalah ia yang selalu berkata kita orang yang sukses meskipun menurut kita sendiri apa yang telah dicapai masih belum ada apa-apanya… :)”

“Om yang terbaik itu adalah ia yang walaupun jarang berbicara namun tidak pernah absen mengirimkan pesan setiap minggunya mengingatkan untuk mendekatkan diri pada Tuhan… :)”

“Tante yang terbaik itu adalah ia yang selalu bercerita tentang pengalaman hidupnya, berharap agar kita dapat lebih baik dari dirinya, dalam meraih sukses.. :)”

“Sepupu yang terbaik itu adalah ia yang selalu berkembang menjadi lebih baik hingga membuat kita termotivasi untuk menjadi lebih baik pula… :)”

“Sahabat terbaik itu.. adalah ia yang selalu ingat hari penting kita dan tidak pernah lupa memberi semangat… makasih yaahh sahabatku sayang.. :’)”

“Tetangga terbaik itu adalah ia yang selalu ingin tahu kabar kita.. hingga membuat kita berusaha untuk hidup lebih baik agar dapat menjadi kabar yang baik bagi mereka.. :)”

***

Beruntung punya orangtua.. saudara.. dan sahabat yang baik, tulus dan selalu mendukung. I love you all… :*

Itu adalah versi terbaik dari orang-orang yang kusayangi.. Bless them, God… 🙂

Lantas, apa versi terbaikmu bagi mereka, orang-orang yang kamu sayangi? Tulislah agar kamu selalu ingat kepada mereka yang juga sangat menyayangimu.

With Love,

Vivin Vivian

Butuh Penyesuaian untuk Mendapatkan Hati Seseorang

Butuh penyesuaian untuk mendapatkan hati seseorang.. Menyesuaikan bukan berarti mengalah atau mengesampingkan kebiasaan… namun untuk belajar menerima satu dengan yang lain.

Seringkali kita heran dan tidak mau mengerti dengan tingkah laku orang-orang yang ada di sekitar kita. Entah itu pasangan kita, saudara, sahabat, teman, ataupun rekan kerja kita.

Siapapun yang saat ini ada di hadapan kita, hubungan yang baik dengannya sudah pasti harus dijaga. Sikap yang baik dan kebiasaan yang positif perlu kita bangun dan lakukan dengan konsisten melalui kehidupan kita sehari-hari. Beberapa diantaranya mungkin sudah kita miliki, namun apabila ada poin yang belum, yuk kita sama-sama perbarui diri, agar menjadi pribadi yang lebih baik. 🙂

Murah senyum

Cerahkan wajah dengan senyuman, jika ingin dicintai dan diterima dengan tulus oleh orang lain. Senyuman dapat menyejukkan hati orang lain dan hati kita sendiri. Apapun masalah yang kita hadapi, cobalah untuk tersenyum.

Jadilah seorang pendengar yang baik

Tuhan menciptakan satu mulut dan dua telinga, tentu ada tujuannya, kita bisa katakan bahwa Tuhan ingin kita lebih banyak mendengarkan daripada berbicara. Pikirkan kembali pembicaraan-pembicaraan yang kamu lakukan hari ini atau kemarin, siapa yang paling banyak berbicara? Kalau jawabannya adalah k-a-m-u, berusahalah untuk mengingatnya lain kali. Pembicaraan yang baik adalah sebuah duet, bukan solo. Cobalah belajar untuk menjadi seorang pendengar sekaligus pembicara yang bisa membuat orang nyaman saat sedang berbicara denganmu.

Rendah hati

Bersikaplah rendah hati terhadap siapa saja, hormati dia sama seperti kamu ingin dihormati, bersikaplah lembut dan berikan penghargaan yang tulus terhadap satu sama lain.

Ringan tangan

Jangan hanya hadir saat senang, namun hadirlah juga saat sedang susah. Seseorang yang memiliki sikap / kebiasaan ini, tidak akan mudah dilupakan oleh orang lain. Ia yang tulus membantu orang-orang di sekitarnya, akan melekat di hati orang-orang yang pernah menerima uluran tangannya.

Tahan amarah

Seseorang yang dapat menahan rasa marahnya saat emosi sedang tinggi adalah seseorang yang kuat dan dewasa secara mental, sikap ini tidak hanya dapat menghindarkan kita dari pertengkaran hebat yang sia-sia namun juga dapat menumbuhkan rasa hormat dari orang yang sedang berhadapan dengan kita.

Cepat sadar akan kesalahan

Cepat menyadari kesalahan menandakan bahwa kita adalah seseorang yang lapang dada dan memiliki kepribadian yang lembut. Seseorang yang cepat sadar akan segera memperbaiki kesalahannya dan berdamai dengan orang yang berkonflik dengannya.

***

Menghilangkan sifat jelek tentu tidak mudah, namun membangun kebiasaan yang baik bukan tidak mungkin. Ingatlah dan lakukan terus menerus maka lama-kelamaan kebiasaan baik tersebut akan mengakar dalam diri kita.

Menghancurkan hati seseorang memang mudah, namun mendapatkan hati seseorang juga bukanlah suatu pekerjaan yang teramat sulit. Tidak perlu merasa tidak mampu, karena apapun itu ketika dilandasi dengan niat yang baik dan hati yang ikhlas, semuanya akan terasa ringan. Perdamaian itu indah, yuk ciptakan perdamaian melalui orang-orang yang ada di sekitar kita.

Warm greeting,

Vivin Vivian 😉

Berhenti Malas, Perkaya Diri…

Pernahkah kamu mendengar pepatah mengatakan bahwa rajin pangkal kaya dan malas pangkal miskin? Yup, kita pasti sudah sering mendengarnya sejak kita kecil, dan tentu ada alasan mengapa pepatah tersebut bisa tercipta.

Laziness is a big killer, an effective dream crusher. Ia memiliki kecenderungan untuk menunda pekerjaan dan selalu menganggap bahwa masih banyak waktu untuk melakukan sesuatu. Hobby-nya adalah mengucapkan kata “nanti”. Kemalasan berlaku baik dalam hal fisik maupun pikir.

Kabar baiknya, malas adalah sebuah kebiasaan, yang artinya bisa diubah dengan cara ditumpuk melalui kebiasaan lain yang lebih baik. Satu-satunya cara untuk menghilangkan kemalasan adalah dengan membuatnya bergerak. Dipaksa di awal dan setelah bergerak maka kecenderungannya adalah tetap bergerak. “Bergerak” dalam artian memiliki dan memelihara kebiasaan positif yang dipaksakan setiap harinya untuk selalu dilakukan agar kemalasan dapat ditiadakan. Jika secara fisik kita malas bergerak, mulailah untuk membuat jadwal olahraga, seperti lari pagi, berenang, dan lain-lain. Sedangkan untuk menghilangkan kemalasan dalam berpikir, mulailah menulis, membaca buku / jurnal, mempelajari sesuatu yang baru, atau memunculkan ide-ide segar serta menganalisa permasahan menarik yang sedang populer di masyarakat.

Mari berkaca dari sekumpulan semut, perhatikanlah lakunya, semut selalu menyediakan makanannya di musim panas dan mengumpulkannya pada waktu panen. Orang malas tidak akan menangkap apa yang diinginkannya, tetapi orang rajin akan memperoleh apa yang ia maui, bahkan seringkali melebihi ekspektasinya. Tangan yang lamban membuat miskin, tetapi tangan orang rajin menjadikan kaya.

Oleh sebab itu ayo berhenti malas, dan mulai perkaya diri. 🙂

source : https://berhentimalas.wordpress.com/

A poem about comfort feeling…

Percakapan dengan salah seorang sahabat malam ini, menginspirasi terbitnya puisi ini… Selesai menulisnya, ingin rasanya hanya disimpan sebagai draft, sehingga tak ada seorang pun yang tau. But, I think it’s beautiful enough to be hidden. For those who can’t define the feeling of comfortable with someone, below words may help you.. (^_^)

Enjoy…! 🙂

———

With you, I’m comfortable.

I know I can talk about anything, or sit by your side in complete silence.

I want to lay on your chest and listen to your heartbeat. But, when I ask where is it, you use your finger and show it is in mine.

It is weird when I am laying by your side in silence, no words at all, just breathing but feeling like we’re having the best conversation of our life.

You see me at my worst, but only talk about my best.

I neither have to weigh my thoughts nor measure my words.

I can be happy about my biggest achievements, while you know my deepest insecurities.

Love is the inexpressible comfort of feeling safe with a person.

I don’t have the words to make you feel better, but I do have the arms to give you a hug, ears to listen to whatever you want to talk about, and I have a heart; a heart that’s aching to see you smile again.

I’m comfortable with you, and you should know that means everything to me.

It just feels natural with you… know what I mean?

 

1000 Tahun Lamanya

Cerita pendek ini terinspirasi dari lagu Tulus – 1000 Tahun Lamanya.

Selamat menikmati 🙂

“Hey…”, sapa Andika kepada Reina yang rupanya telah tiba lebih dulu di Mixie, salah satu coffeshop favorit mereka. “Sorry.. sudah lama menunggu?” tanya Andika sebelum menghempaskan dirinya ke bangku tepat dihadapan Reina.

Reina tersenyum dan menggeleng, seraya berucap “No problem, Dik…”. Andika kemudian melambaikan tangannya ke waitress dan kemudian sambil memandangi wajah Reina yang nampak teduh, ia bertanya, “Hazelnut?”. “Ya,  seperti biasa…” ucap Reina. “Hazelnut Coffee dan Americano.” ucap Andika kepada waitress yang sudah siap mencatat pesanan mereka.

“How’s your day?” tanya Andika. “Everything is great…!” ucap Reina sambil tersenyum lebar. “Aku lolos pertukaran pelajar ke Prancis…!” “Êtes-vous sûr? (Apakah kamu yakin?)” ucap Andika.Oui, je suis sur! (Ya, aku yakin!)” ucap Reina dengan penuh semangat. Andika ikut tertawa bahagia, dan kemudian berkata, “Félicitations, Reina… (Selamat, Reina…)”. “Merci… (Terimakasih…)” ucap Reina dengan mata berbinar-binar. Namun, dalam sekejap tatapan matanya kemudian berubah menjadi tatapan heran. “Whoa… Kamu bisa bahasa Prancis, Dik?” tanya Reina takjub. “Hahaha… aku yakin kamu pasti akan lolos, makanya aku belajar sedikit untuk mengucapimu selamat.” ucap Dika kemudian mengacak-acak rambut Reina yang halus. “Hmmm… so sweet..” ucap Reina sambil tersipu malu.

“Aku sudah tidak sabar untuk meninggalkan kota Jakarta, Dik… Aku ingin segera pergi ke Prancis, memulai lembaran baru disana, yah walaupun hanya sementara, tak apa. Aku benar-benar ingin sendiri.” ucap Reina, sambil memainkan gelas kopinya ke kiri dan ke kanan, sambil terus menunduk.

“Hey… pastikan motivasimu adalah untuk belajar, ok? Nothing else.” ucap Andika tegas. “Sambil menyelam minum air dong Dik… belajar hal baru dan belajar melupakan masa lalu.” ucap Reina pelan sambil tersenyum getir. Andika menatap mata Reina yang menyiratkan sedikit kesedihan.

Please, dont look at me like that, Rei… gumam Andika dalam hati.

Andika mengalihkan pandangannya ke luar jendela, kemudian berkata, “kamu ga takut kangen berat sama aku?” Reina tertawa dan berkata, “Hmm… kamu pengen dikangenin? Hahaha…” Andika diam saja. Reina kemudian menyentuh jari-jarinya dan berkata, “Pasti, Dik. Aku pasti kangen kamu… Kamu teman yang sangat baik.” ucap Reina tulus.

Andika kemudian memandangi wajah Reina, gadis kesayangannya yang sebentar lagi akan pergi ke Prancis untuk waktu 1 tahun. “Baik-baik yah disana. Jaga diri dan kesehatanmu. Call me if you feel sad or desperate. Dont ever forget me when you are happy too.” ucap Andika sambil tersenyum.

“Saat kamu pulang, semoga kamu masih Reinasha Firdina yang aku kenal. Reina yang sudah melupakan masa lalunya juga…” ucap Andika pelan.

Reina tersenyum tipis. “Thanks Dik. Ketika kita bertemu lagi, semoga kamu juga masih Andika Perwira yang aku kenal. Dika yang baik, lucu dan menggemaskan.” ucap Reina sambil mencubit pipi Andika.

Andika tersenyum kemudian berkata, “Kita sudah kenal berapa lama Rei? Aku tidak pernah berubah kan? Yah mungkin kadang aku agak sedikit cuek dan mulai sibuk… tapi…” Andika terdiam.

“Tapi… tapi apa?” tanya Reina. Andika tersenyum dan berkata pelan, “Mon cœur est toujours la vôtre.” Reina kaget, ia memandang takjub, namun kemudian berkata, “Sorry, what is the meaning?” tanya Reina.

Andika tertawa, kemudian berkata, “Pergi dulu ke Prancis dan cari tahu artinya disana, ok?”

Reina kemudian ikut tertawa sambil berkata, “Oke.. .oke… awas yah, kalau artinya ternyata ngeledekkin aku…

Mereka berdua tertawa bersama, dan kemudian hujan turun di luar sana. Sambil menyeruput gelas kopi masing-masing, mereka sama-sama memandangi tetesan air hujan yang turun melalui jendela, sesaat masing-masing mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing.

Reina : (I know what you mean, Dik… Sorry, I act like I dont know anything…)

Andika : (I know you know it Rei, I’ll wait until you admit it…)

Reina : (Would you wait for me, Dik?)

Andika : (I’ll be waiting you even for 1000 years, Rei…)

Mereka tersenyum satu sama lain, setelah mereka selesai dengan pikirannya masing-masing.

“Yuk, aku antar pulang.” ucap Andika sambil tersenyum.

Note :

Mon cœur est toujours la vôtre = My heart is always yours.

Lyric Lagu Tulus – 1000 Tahun Lamanya

Bila kau sanggup untuk melupakan dia
Biarkan aku hadir dan menata
Ruang hati yang telah tertutup lama

Jika kau masih ragu untuk menerima
Biarkan hati kecilmu bicara
Karena ku yakin kan datang saatnya

Kau jadi bagian hidupku
Kau jadi bagian hidupku

Takkan pernah berhenti untuk selalu percaya
Walau harus menunggu seribu tahun lamanya
Biarkanlah terjadi wajar apa adanya
Walau harus menunggu seribu tahun lamanya

Jika kau masih ragu untuk menerima
Biarkan hati kecilmu bicara
Karena ku yakin kan datang saatnya

Kau jadi bagian hidupku
Kau jadi bagian hidupku

Takkan pernah berhenti untuk selalu percayai
Walau harus menunggu seribu tahun lamanya
Biarkanlah terjadi wajar apa adanya
Walau harus menunggu seribu tahun lamanya

Selama apapun itu
ku akan setia menunggu

Takkan pernah berhenti untuk selalu percaya
Walau harus menunggu

Takkan pernah berhenti untuk selalu percaya
Walau harus menunggu seribu tahun lamanya
Biarkanlah terjadi wajar apa adanya
Walau harus menunggu seribu tahun lamanya

Hey you…! :)

Hello…

This is my first post and gonna be a warm greeting for you all who reading this blog. Thank you so much for visiting 🙂

Menulis bisa dikatakan adalah hobby-ku sedari kecil. Receh demi receh uang sakuku, aku kumpulkan untuk membeli diary, sebuah buku tebal berukuran lebih ringkas dari buku tulis, dengan jilid cover bergambar menarik, dan lembaran kertas berwarna yang menjadi penyemangat untuk bercerita pada masa itu.

Tak terhitung jumlahnya diary yang kumiliki saat itu, namun bisa dihitung dengan jari sisanya yang saat ini masih tersimpan dengan rapih di lemari kayu yang terduduk manis di pojokan kamarku yang minimalis. Banyak cerita disana, yang apabila dibaca kembali sangat menghangatkan, terkadang mengundang gelak tawa dan memunculkan kembali memory-memory usang namun penuh dengan kekonyolan. 🙂

Seiring dengan perkembangan zaman, diary sudah tidak lagi populer. Bertambahnya usia juga membuat keseharianku semakin sibuk dengan aktivitas-aktivitas penting lainnya. Aku berhenti menulis, tidak benar-benar berhenti memang, Aku masih menulis… namun tidak lagi soal peristiwa yang akan menjadi kenangan manis. Aku mulai belajar menulis laporan ilmiah, makalah, karya tulis dan lain sebagainya yang ditugaskan oleh sekolah dan universitas.

Aku masih punya hasrat untuk bercerita, namun terkadang kesibukan dan kemudian rasa lelah yang melanda setelah bekerja seharian, membuatku seakan merasa tidak ada waktu. Aku ingin istirahat, begitu pikirku, saat melihat kasur yang empuk seusai beraktivitas seharian di luar.

Semuanya terasa baik-baik saja, namun mimpi dan cita untuk menuangkan pemikiran yang terus berkelana di kepala karena tiada tempat untuk singgah, terus menerus menghantui. Hal ini berlangsung begitu lama, sehingga kadang aku mulai lupa, dan apabila teringat hanya bisa merenung dan geleng-geleng kepala.

Seseorang kemudian hadir, entah apa sebabnya ia datang menginspirasi, menghidupkan kembali mimpi dan cita tersebut. Terimakasih untuk kamu yang sudah menjadi berkat untukku. 🙂

Kuharap semangat ini akan terus berkobar, tidak mudah padam oleh kesibukan dan rasa malas. Aku sepenuhnya sadar bahwa aku-lah satu-satunya yang memegang kontrol penuh terhadap diriku. Tidak seharusnya mimpi dan cita terkubur selamanya hanya demi menggali lubang kebutuhan yang lain. Justru, mimpi dan cita tersebut harus ditanam dan dipupuk agar menjadi mekar dan indah, tidak hanya indah dipandang mata, namun juga bermanfaat bagi semua.

Demikian, blog ini kemudian lahir, semoga apa yang tertuang di sini, dapat menjadi sumber inspirasi dan manfaat bagi semua. 🙂

Best Regards,

Vivin Vivian