Berhenti Malas, Perkaya Diri…

Pernahkah kamu mendengar pepatah mengatakan bahwa rajin pangkal kaya dan malas pangkal miskin? Yup, kita pasti sudah sering mendengarnya sejak kita kecil, dan tentu ada alasan mengapa pepatah tersebut bisa tercipta.

Laziness is a big killer, an effective dream crusher. Ia memiliki kecenderungan untuk menunda pekerjaan dan selalu menganggap bahwa masih banyak waktu untuk melakukan sesuatu. Hobby-nya adalah mengucapkan kata “nanti”. Kemalasan berlaku baik dalam hal fisik maupun pikir.

Kabar baiknya, malas adalah sebuah kebiasaan, yang artinya bisa diubah dengan cara ditumpuk melalui kebiasaan lain yang lebih baik. Satu-satunya cara untuk menghilangkan kemalasan adalah dengan membuatnya bergerak. Dipaksa di awal dan setelah bergerak maka kecenderungannya adalah tetap bergerak. “Bergerak” dalam artian memiliki dan memelihara kebiasaan positif yang dipaksakan setiap harinya untuk selalu dilakukan agar kemalasan dapat ditiadakan. Jika secara fisik kita malas bergerak, mulailah untuk membuat jadwal olahraga, seperti lari pagi, berenang, dan lain-lain. Sedangkan untuk menghilangkan kemalasan dalam berpikir, mulailah menulis, membaca buku / jurnal, mempelajari sesuatu yang baru, atau memunculkan ide-ide segar serta menganalisa permasahan menarik yang sedang populer di masyarakat.

Mari berkaca dari sekumpulan semut, perhatikanlah lakunya, semut selalu menyediakan makanannya di musim panas dan mengumpulkannya pada waktu panen. Orang malas tidak akan menangkap apa yang diinginkannya, tetapi orang rajin akan memperoleh apa yang ia maui, bahkan seringkali melebihi ekspektasinya. Tangan yang lamban membuat miskin, tetapi tangan orang rajin menjadikan kaya.

Oleh sebab itu ayo berhenti malas, dan mulai perkaya diri. 🙂

source : https://berhentimalas.wordpress.com/

A poem about comfort feeling…

Percakapan dengan salah seorang sahabat malam ini, menginspirasi terbitnya puisi ini… Selesai menulisnya, ingin rasanya hanya disimpan sebagai draft, sehingga tak ada seorang pun yang tau. But, I think it’s beautiful enough to be hidden. For those who can’t define the feeling of comfortable with someone, below words may help you.. (^_^)

Enjoy…! 🙂

———

With you, I’m comfortable.

I know I can talk about anything, or sit by your side in complete silence.

I want to lay on your chest and listen to your heartbeat. But, when I ask where is it, you use your finger and show it is in mine.

It is weird when I am laying by your side in silence, no words at all, just breathing but feeling like we’re having the best conversation of our life.

You see me at my worst, but only talk about my best.

I neither have to weigh my thoughts nor measure my words.

I can be happy about my biggest achievements, while you know my deepest insecurities.

Love is the inexpressible comfort of feeling safe with a person.

I don’t have the words to make you feel better, but I do have the arms to give you a hug, ears to listen to whatever you want to talk about, and I have a heart; a heart that’s aching to see you smile again.

I’m comfortable with you, and you should know that means everything to me.

It just feels natural with you… know what I mean?

 

1000 Tahun Lamanya

Cerita pendek ini terinspirasi dari lagu Tulus – 1000 Tahun Lamanya.

Selamat menikmati 🙂

“Hey…”, sapa Andika kepada Reina yang rupanya telah tiba lebih dulu di Mixie, salah satu coffeshop favorit mereka. “Sorry.. sudah lama menunggu?” tanya Andika sebelum menghempaskan dirinya ke bangku tepat dihadapan Reina.

Reina tersenyum dan menggeleng, seraya berucap “No problem, Dik…”. Andika kemudian melambaikan tangannya ke waitress dan kemudian sambil memandangi wajah Reina yang nampak teduh, ia bertanya, “Hazelnut?”. “Ya,  seperti biasa…” ucap Reina. “Hazelnut Coffee dan Americano.” ucap Andika kepada waitress yang sudah siap mencatat pesanan mereka.

“How’s your day?” tanya Andika. “Everything is great…!” ucap Reina sambil tersenyum lebar. “Aku lolos pertukaran pelajar ke Prancis…!” “Êtes-vous sûr? (Apakah kamu yakin?)” ucap Andika.Oui, je suis sur! (Ya, aku yakin!)” ucap Reina dengan penuh semangat. Andika ikut tertawa bahagia, dan kemudian berkata, “Félicitations, Reina… (Selamat, Reina…)”. “Merci… (Terimakasih…)” ucap Reina dengan mata berbinar-binar. Namun, dalam sekejap tatapan matanya kemudian berubah menjadi tatapan heran. “Whoa… Kamu bisa bahasa Prancis, Dik?” tanya Reina takjub. “Hahaha… aku yakin kamu pasti akan lolos, makanya aku belajar sedikit untuk mengucapimu selamat.” ucap Dika kemudian mengacak-acak rambut Reina yang halus. “Hmmm… so sweet..” ucap Reina sambil tersipu malu.

“Aku sudah tidak sabar untuk meninggalkan kota Jakarta, Dik… Aku ingin segera pergi ke Prancis, memulai lembaran baru disana, yah walaupun hanya sementara, tak apa. Aku benar-benar ingin sendiri.” ucap Reina, sambil memainkan gelas kopinya ke kiri dan ke kanan, sambil terus menunduk.

“Hey… pastikan motivasimu adalah untuk belajar, ok? Nothing else.” ucap Andika tegas. “Sambil menyelam minum air dong Dik… belajar hal baru dan belajar melupakan masa lalu.” ucap Reina pelan sambil tersenyum getir. Andika menatap mata Reina yang menyiratkan sedikit kesedihan.

Please, dont look at me like that, Rei… gumam Andika dalam hati.

Andika mengalihkan pandangannya ke luar jendela, kemudian berkata, “kamu ga takut kangen berat sama aku?” Reina tertawa dan berkata, “Hmm… kamu pengen dikangenin? Hahaha…” Andika diam saja. Reina kemudian menyentuh jari-jarinya dan berkata, “Pasti, Dik. Aku pasti kangen kamu… Kamu teman yang sangat baik.” ucap Reina tulus.

Andika kemudian memandangi wajah Reina, gadis kesayangannya yang sebentar lagi akan pergi ke Prancis untuk waktu 1 tahun. “Baik-baik yah disana. Jaga diri dan kesehatanmu. Call me if you feel sad or desperate. Dont ever forget me when you are happy too.” ucap Andika sambil tersenyum.

“Saat kamu pulang, semoga kamu masih Reinasha Firdina yang aku kenal. Reina yang sudah melupakan masa lalunya juga…” ucap Andika pelan.

Reina tersenyum tipis. “Thanks Dik. Ketika kita bertemu lagi, semoga kamu juga masih Andika Perwira yang aku kenal. Dika yang baik, lucu dan menggemaskan.” ucap Reina sambil mencubit pipi Andika.

Andika tersenyum kemudian berkata, “Kita sudah kenal berapa lama Rei? Aku tidak pernah berubah kan? Yah mungkin kadang aku agak sedikit cuek dan mulai sibuk… tapi…” Andika terdiam.

“Tapi… tapi apa?” tanya Reina. Andika tersenyum dan berkata pelan, “Mon cœur est toujours la vôtre.” Reina kaget, ia memandang takjub, namun kemudian berkata, “Sorry, what is the meaning?” tanya Reina.

Andika tertawa, kemudian berkata, “Pergi dulu ke Prancis dan cari tahu artinya disana, ok?”

Reina kemudian ikut tertawa sambil berkata, “Oke.. .oke… awas yah, kalau artinya ternyata ngeledekkin aku…

Mereka berdua tertawa bersama, dan kemudian hujan turun di luar sana. Sambil menyeruput gelas kopi masing-masing, mereka sama-sama memandangi tetesan air hujan yang turun melalui jendela, sesaat masing-masing mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing.

Reina : (I know what you mean, Dik… Sorry, I act like I dont know anything…)

Andika : (I know you know it Rei, I’ll wait until you admit it…)

Reina : (Would you wait for me, Dik?)

Andika : (I’ll be waiting you even for 1000 years, Rei…)

Mereka tersenyum satu sama lain, setelah mereka selesai dengan pikirannya masing-masing.

“Yuk, aku antar pulang.” ucap Andika sambil tersenyum.

Note :

Mon cœur est toujours la vôtre = My heart is always yours.

Lyric Lagu Tulus – 1000 Tahun Lamanya

Bila kau sanggup untuk melupakan dia
Biarkan aku hadir dan menata
Ruang hati yang telah tertutup lama

Jika kau masih ragu untuk menerima
Biarkan hati kecilmu bicara
Karena ku yakin kan datang saatnya

Kau jadi bagian hidupku
Kau jadi bagian hidupku

Takkan pernah berhenti untuk selalu percaya
Walau harus menunggu seribu tahun lamanya
Biarkanlah terjadi wajar apa adanya
Walau harus menunggu seribu tahun lamanya

Jika kau masih ragu untuk menerima
Biarkan hati kecilmu bicara
Karena ku yakin kan datang saatnya

Kau jadi bagian hidupku
Kau jadi bagian hidupku

Takkan pernah berhenti untuk selalu percayai
Walau harus menunggu seribu tahun lamanya
Biarkanlah terjadi wajar apa adanya
Walau harus menunggu seribu tahun lamanya

Selama apapun itu
ku akan setia menunggu

Takkan pernah berhenti untuk selalu percaya
Walau harus menunggu

Takkan pernah berhenti untuk selalu percaya
Walau harus menunggu seribu tahun lamanya
Biarkanlah terjadi wajar apa adanya
Walau harus menunggu seribu tahun lamanya

Hey you…! :)

Hello…

This is my first post and gonna be a warm greeting for you all who reading this blog. Thank you so much for visiting 🙂

Menulis bisa dikatakan adalah hobby-ku sedari kecil. Receh demi receh uang sakuku, aku kumpulkan untuk membeli diary, sebuah buku tebal berukuran lebih ringkas dari buku tulis, dengan jilid cover bergambar menarik, dan lembaran kertas berwarna yang menjadi penyemangat untuk bercerita pada masa itu.

Tak terhitung jumlahnya diary yang kumiliki saat itu, namun bisa dihitung dengan jari sisanya yang saat ini masih tersimpan dengan rapih di lemari kayu yang terduduk manis di pojokan kamarku yang minimalis. Banyak cerita disana, yang apabila dibaca kembali sangat menghangatkan, terkadang mengundang gelak tawa dan memunculkan kembali memory-memory usang namun penuh dengan kekonyolan. 🙂

Seiring dengan perkembangan zaman, diary sudah tidak lagi populer. Bertambahnya usia juga membuat keseharianku semakin sibuk dengan aktivitas-aktivitas penting lainnya. Aku berhenti menulis, tidak benar-benar berhenti memang, Aku masih menulis… namun tidak lagi soal peristiwa yang akan menjadi kenangan manis. Aku mulai belajar menulis laporan ilmiah, makalah, karya tulis dan lain sebagainya yang ditugaskan oleh sekolah dan universitas.

Aku masih punya hasrat untuk bercerita, namun terkadang kesibukan dan kemudian rasa lelah yang melanda setelah bekerja seharian, membuatku seakan merasa tidak ada waktu. Aku ingin istirahat, begitu pikirku, saat melihat kasur yang empuk seusai beraktivitas seharian di luar.

Semuanya terasa baik-baik saja, namun mimpi dan cita untuk menuangkan pemikiran yang terus berkelana di kepala karena tiada tempat untuk singgah, terus menerus menghantui. Hal ini berlangsung begitu lama, sehingga kadang aku mulai lupa, dan apabila teringat hanya bisa merenung dan geleng-geleng kepala.

Seseorang kemudian hadir, entah apa sebabnya ia datang menginspirasi, menghidupkan kembali mimpi dan cita tersebut. Terimakasih untuk kamu yang sudah menjadi berkat untukku. 🙂

Kuharap semangat ini akan terus berkobar, tidak mudah padam oleh kesibukan dan rasa malas. Aku sepenuhnya sadar bahwa aku-lah satu-satunya yang memegang kontrol penuh terhadap diriku. Tidak seharusnya mimpi dan cita terkubur selamanya hanya demi menggali lubang kebutuhan yang lain. Justru, mimpi dan cita tersebut harus ditanam dan dipupuk agar menjadi mekar dan indah, tidak hanya indah dipandang mata, namun juga bermanfaat bagi semua.

Demikian, blog ini kemudian lahir, semoga apa yang tertuang di sini, dapat menjadi sumber inspirasi dan manfaat bagi semua. 🙂

Best Regards,

Vivin Vivian