Versi Terbaik Mereka, Orang-Orang Yang Kusayangi…

Saat memutuskan untuk meniti karier di Jakarta, perasaanku campur aduk, ada rasa takut, khawatir, namun di sisi lain tetap merasa senang dan bersemangat. Agustus 2013, aku menjejakkan kakiku di ibukota, bersama ratusan bahkan mungkin ribuan pendatang menelusuri celah demi celah kota Jakarta, mencari sisa-sisa lowongan pekerjaan yang tersedia.

Lelah memang, namun harapan itu ada, karena cukup yakin dengan kompetensi yang dimiliki. Empat tahun bergelut di universitas, lumayan membuat rasa percaya diri itu tumbuh. Nekat? Yah bisa dikatakan begitu. Mengantongi izin dari orangtua yang belum sepenuhnya mau melepaskan dan berkat uang tabungan yang telah dikumpulkan sejak lama, membuatku pergi merantau tanpa harus membebani dompet orangtua.

Tidak butuh waktu lama untuk mengisi satu dari lowongan yang ada, aku pun diterima di sebuah perusahaan swasta sebulan kemudian. Bukan perusahaan besar, tapi aku menyukai jenis pekerjaannya. Terburu-buru? Ya, tawaran datang dan aku pun lantas menerima, tanpa pikir panjang. Aku hanyalah seorang fresh graduate tanpa pengalaman profesional apapun, aku merasa pada saat itu, tak perlu lah aku menjadi seorang yang terlalu pemilih. Kesempatan tidak datang dua kali, begitu pikirku.

Kabar diterimanya aku di perusahaan tersebut, juga akhirnya menyakinkanku bahwa aku harus siap tinggal di Jakarta. Sebelum memutuskan berangkat, aku memang sudah menargetkan diri sendiri untuk segera mendapatkan pekerjaan dalam waktu satu bulan. Tabungan yang tidak seberapa banyak mungkin hanya cukup untuk aku tinggal selama tiga bulan, yah walaupun sebenarnya aku tidak perlu terlalu khawatir karena Papah selalu siap untuk memenuhi segala kebutuhanku apabila aku kekurangan. Aku bersyukur bahwa Tuhan merestui permohonan yang kulantunkan dalam doa-doaku kepada-Nya. Targetku pada saat itu tercapai, dan aku mampu melakoni apa yang menjadi tugasku dalam pekerjaanku dengan baik hingga saat ini.

Malam sebelum hari pertamaku bekerja, aku teringat dengan orang-orang di sekitarku, yang selalu mendukung apa yang menjadi keputusanku. Aku kemudian menuliskan versi terbaik dari mereka melalui tweet-tweet singkat di akun twitter-ku.

***

“Ibu terbaik adalah ia yang sesungguhnya tidak sanggup berpisah dengan anaknya… tapi bangun lebih pagi untuk membangunkannya dan membuatkannya sarapan di hari keberangkatannya…”

“Ayah terbaik adalah ia yang menganggap kita masih gadis kecil kesayangannya namun tak dapat memungkiri kedewasaan kita dalam meraih cita-cita… :)”

“Orangtua itu… selalu memberikan dukungan yang terhebat bagi anaknya meski berat untuk melepasnya… makasih banyak yah Pah.. Mah.. :’)”

“Kakak terbaik itu meski merasa kesepian ditinggal adiknya tapi masih mengantar dengan senyuman… makasih kakakku sayang… :’)”

“Adik yang terbaik itu adalah ia yang selalu kecil dalam ingatan.. membuat kita tersenyum bila ingat tingkah lucunya.. dan rindu kembali menjadi anak-anak… :)”

“Bue (baca : kakek) yang terbaik itu adalah ia yang meskipun telah tiada tapi kesan hangatnya tidak pernah lenyap dari ingatan kita… :)”

“Tambi (baca : nenek) terbaik itu adalah ia yang selalu berkata kita orang yang sukses meskipun menurut kita sendiri apa yang telah dicapai masih belum ada apa-apanya… :)”

“Om yang terbaik itu adalah ia yang walaupun jarang berbicara namun tidak pernah absen mengirimkan pesan setiap minggunya mengingatkan untuk mendekatkan diri pada Tuhan… :)”

“Tante yang terbaik itu adalah ia yang selalu bercerita tentang pengalaman hidupnya, berharap agar kita dapat lebih baik dari dirinya, dalam meraih sukses.. :)”

“Sepupu yang terbaik itu adalah ia yang selalu berkembang menjadi lebih baik hingga membuat kita termotivasi untuk menjadi lebih baik pula… :)”

“Sahabat terbaik itu.. adalah ia yang selalu ingat hari penting kita dan tidak pernah lupa memberi semangat… makasih yaahh sahabatku sayang.. :’)”

“Tetangga terbaik itu adalah ia yang selalu ingin tahu kabar kita.. hingga membuat kita berusaha untuk hidup lebih baik agar dapat menjadi kabar yang baik bagi mereka.. :)”

***

Beruntung punya orangtua.. saudara.. dan sahabat yang baik, tulus dan selalu mendukung. I love you all… :*

Itu adalah versi terbaik dari orang-orang yang kusayangi.. Bless them, God… 🙂

Lantas, apa versi terbaikmu bagi mereka, orang-orang yang kamu sayangi? Tulislah agar kamu selalu ingat kepada mereka yang juga sangat menyayangimu.

With Love,

Vivin Vivian

Butuh Penyesuaian untuk Mendapatkan Hati Seseorang

Butuh penyesuaian untuk mendapatkan hati seseorang.. Menyesuaikan bukan berarti mengalah atau mengesampingkan kebiasaan… namun untuk belajar menerima satu dengan yang lain.

Seringkali kita heran dan tidak mau mengerti dengan tingkah laku orang-orang yang ada di sekitar kita. Entah itu pasangan kita, saudara, sahabat, teman, ataupun rekan kerja kita.

Siapapun yang saat ini ada di hadapan kita, hubungan yang baik dengannya sudah pasti harus dijaga. Sikap yang baik dan kebiasaan yang positif perlu kita bangun dan lakukan dengan konsisten melalui kehidupan kita sehari-hari. Beberapa diantaranya mungkin sudah kita miliki, namun apabila ada poin yang belum, yuk kita sama-sama perbarui diri, agar menjadi pribadi yang lebih baik. 🙂

Murah senyum

Cerahkan wajah dengan senyuman, jika ingin dicintai dan diterima dengan tulus oleh orang lain. Senyuman dapat menyejukkan hati orang lain dan hati kita sendiri. Apapun masalah yang kita hadapi, cobalah untuk tersenyum.

Jadilah seorang pendengar yang baik

Tuhan menciptakan satu mulut dan dua telinga, tentu ada tujuannya, kita bisa katakan bahwa Tuhan ingin kita lebih banyak mendengarkan daripada berbicara. Pikirkan kembali pembicaraan-pembicaraan yang kamu lakukan hari ini atau kemarin, siapa yang paling banyak berbicara? Kalau jawabannya adalah k-a-m-u, berusahalah untuk mengingatnya lain kali. Pembicaraan yang baik adalah sebuah duet, bukan solo. Cobalah belajar untuk menjadi seorang pendengar sekaligus pembicara yang bisa membuat orang nyaman saat sedang berbicara denganmu.

Rendah hati

Bersikaplah rendah hati terhadap siapa saja, hormati dia sama seperti kamu ingin dihormati, bersikaplah lembut dan berikan penghargaan yang tulus terhadap satu sama lain.

Ringan tangan

Jangan hanya hadir saat senang, namun hadirlah juga saat sedang susah. Seseorang yang memiliki sikap / kebiasaan ini, tidak akan mudah dilupakan oleh orang lain. Ia yang tulus membantu orang-orang di sekitarnya, akan melekat di hati orang-orang yang pernah menerima uluran tangannya.

Tahan amarah

Seseorang yang dapat menahan rasa marahnya saat emosi sedang tinggi adalah seseorang yang kuat dan dewasa secara mental, sikap ini tidak hanya dapat menghindarkan kita dari pertengkaran hebat yang sia-sia namun juga dapat menumbuhkan rasa hormat dari orang yang sedang berhadapan dengan kita.

Cepat sadar akan kesalahan

Cepat menyadari kesalahan menandakan bahwa kita adalah seseorang yang lapang dada dan memiliki kepribadian yang lembut. Seseorang yang cepat sadar akan segera memperbaiki kesalahannya dan berdamai dengan orang yang berkonflik dengannya.

***

Menghilangkan sifat jelek tentu tidak mudah, namun membangun kebiasaan yang baik bukan tidak mungkin. Ingatlah dan lakukan terus menerus maka lama-kelamaan kebiasaan baik tersebut akan mengakar dalam diri kita.

Menghancurkan hati seseorang memang mudah, namun mendapatkan hati seseorang juga bukanlah suatu pekerjaan yang teramat sulit. Tidak perlu merasa tidak mampu, karena apapun itu ketika dilandasi dengan niat yang baik dan hati yang ikhlas, semuanya akan terasa ringan. Perdamaian itu indah, yuk ciptakan perdamaian melalui orang-orang yang ada di sekitar kita.

Warm greeting,

Vivin Vivian 😉

A poem about comfort feeling…

Percakapan dengan salah seorang sahabat malam ini, menginspirasi terbitnya puisi ini… Selesai menulisnya, ingin rasanya hanya disimpan sebagai draft, sehingga tak ada seorang pun yang tau. But, I think it’s beautiful enough to be hidden. For those who can’t define the feeling of comfortable with someone, below words may help you.. (^_^)

Enjoy…! 🙂

———

With you, I’m comfortable.

I know I can talk about anything, or sit by your side in complete silence.

I want to lay on your chest and listen to your heartbeat. But, when I ask where is it, you use your finger and show it is in mine.

It is weird when I am laying by your side in silence, no words at all, just breathing but feeling like we’re having the best conversation of our life.

You see me at my worst, but only talk about my best.

I neither have to weigh my thoughts nor measure my words.

I can be happy about my biggest achievements, while you know my deepest insecurities.

Love is the inexpressible comfort of feeling safe with a person.

I don’t have the words to make you feel better, but I do have the arms to give you a hug, ears to listen to whatever you want to talk about, and I have a heart; a heart that’s aching to see you smile again.

I’m comfortable with you, and you should know that means everything to me.

It just feels natural with you… know what I mean?