What is most important to me?

Kalau ditanya, apa yang paling penting untukmu? Sebagian orang mungkin akan merasa bingung untuk menjawab, sebagian lagi akan mantap memberikan jawaban, namun ketika ditanya mengapa hal itu penting untukmu, ia akan berpikir ulang dan kemudian merasa ragu-ragu, apakah benar hal itu adalah yang paling penting untuknya?

Ketika pertanyaan ini terlontar di pikiranku, aku pun tidak tahu harus menjawab apa. Namun setelah berpikir beberapa saat, buatku yang terpenting adalah “Hidup”.

Mengapa “hidup”? Karena hidup ini adalah kesempatan. Tuhan memberikan kita hidup untuk memberikan kesempatan kepada kita berbuat yang terbaik bagi diri kita sendiri dan juga orang-orang di sekitar kita. Ada satu istilah yang sering diucapkan oleh orang-orang yang menghargai kesempatan yaitu “sekali seumur hidup”. “Sekali seumur hidup” karena semua orang di dunia ini percaya bahwa kita tidak akan pernah lagi bisa hidup di dunia yang sama. Bila saatnya kita harus meninggalkan dunia ini, kita akan kembali hidup di dunia yang lain. Tapi, kita tidak akan pernah benar-benar hidup kembali di dunia yang sama. Everything will be change.

Detik ini juga aku mencoba untuk membayangkan, apa yang akan terjadi bila semua orang memiliki pandangan yang sama denganku? Bahwa yang terpenting untuknya adalah “Hidup”? “Hidup” yang cuma sekali ini. Sekali di dunia ini. Aku yakin bahwa dunia ini akan lebih damai, karena setiap orang akan berusaha untuk menggoreskan cerita terbaiknya di hidup yang cuma sekali ini. Bahwa setiap orang akan menghargai satu dengan yang lainnya, karena tahu dengan pasti bahwa “hidup” ini adalah yang terpenting bagi setiap orang.

Sekali lagi, hidup ini adalah kesempatan. Setiap hari dalam hidup ini adalah kesempatan. Berapa banyak lagi jumlah hari yang akan kita sia-siakan?

Mulailah untuk melakukan yang terbaik bagi dirimu dan untuk orang-orang di sekitarmu. Apabila kamu seorang pelajar, seraplah ilmu dengan sebaik-baiknya dan ajari mereka yang masih butuh bimbingan. Apabila kamu seorang pekerja, bekerjalah dengan rajin dan produktif dan berlakulah baik dengan rekan kerjamu. Apabila kamu seorang istri, layanilah suami dan anak-anakmu dengan sepenuh hati. Apabila kamu seorang suami, berusahalah memberikan yang terbaik untuk kehidupan istri dan anak-anakmu. Apabila kamu seorang ayah, jadilah teladan hidup yang baik untuk dicontoh oleh anak-anakmu. Apabila kamu seorang ibu, rawatlah anak-anakmu dengan baik dan ajari mereka untuk menghargai hidup. Apabila kamu seorang anak, perlakukan orangtuamu dengan baik, jangan pernah lupa bahwa seumur hidup orangtuamu, banyak hal yang telah mereka korbankan hanya untuk melihat kamu bisa hidup di dunia ini dengan baik. Apapun peranmu di dunia ini, hidupilah peran itu dengan baik.

Dan ingat untuk selalu melibatkan Tuhan. Karena Ia-lah yang memberikan kita nafas kehidupan…

With Love,

Vivin Vivian

 

Iklan

Versi Terbaik Mereka, Orang-Orang Yang Kusayangi…

Saat memutuskan untuk meniti karier di Jakarta, perasaanku campur aduk, ada rasa takut, khawatir, namun di sisi lain tetap merasa senang dan bersemangat. Agustus 2013, aku menjejakkan kakiku di ibukota, bersama ratusan bahkan mungkin ribuan pendatang menelusuri celah demi celah kota Jakarta, mencari sisa-sisa lowongan pekerjaan yang tersedia.

Lelah memang, namun harapan itu ada, karena cukup yakin dengan kompetensi yang dimiliki. Empat tahun bergelut di universitas, lumayan membuat rasa percaya diri itu tumbuh. Nekat? Yah bisa dikatakan begitu. Mengantongi izin dari orangtua yang belum sepenuhnya mau melepaskan dan berkat uang tabungan yang telah dikumpulkan sejak lama, membuatku pergi merantau tanpa harus membebani dompet orangtua.

Tidak butuh waktu lama untuk mengisi satu dari lowongan yang ada, aku pun diterima di sebuah perusahaan swasta sebulan kemudian. Bukan perusahaan besar, tapi aku menyukai jenis pekerjaannya. Terburu-buru? Ya, tawaran datang dan aku pun lantas menerima, tanpa pikir panjang. Aku hanyalah seorang fresh graduate tanpa pengalaman profesional apapun, aku merasa pada saat itu, tak perlu lah aku menjadi seorang yang terlalu pemilih. Kesempatan tidak datang dua kali, begitu pikirku.

Kabar diterimanya aku di perusahaan tersebut, juga akhirnya menyakinkanku bahwa aku harus siap tinggal di Jakarta. Sebelum memutuskan berangkat, aku memang sudah menargetkan diri sendiri untuk segera mendapatkan pekerjaan dalam waktu satu bulan. Tabungan yang tidak seberapa banyak mungkin hanya cukup untuk aku tinggal selama tiga bulan, yah walaupun sebenarnya aku tidak perlu terlalu khawatir karena Papah selalu siap untuk memenuhi segala kebutuhanku apabila aku kekurangan. Aku bersyukur bahwa Tuhan merestui permohonan yang kulantunkan dalam doa-doaku kepada-Nya. Targetku pada saat itu tercapai, dan aku mampu melakoni apa yang menjadi tugasku dalam pekerjaanku dengan baik hingga saat ini.

Malam sebelum hari pertamaku bekerja, aku teringat dengan orang-orang di sekitarku, yang selalu mendukung apa yang menjadi keputusanku. Aku kemudian menuliskan versi terbaik dari mereka melalui tweet-tweet singkat di akun twitter-ku.

***

“Ibu terbaik adalah ia yang sesungguhnya tidak sanggup berpisah dengan anaknya… tapi bangun lebih pagi untuk membangunkannya dan membuatkannya sarapan di hari keberangkatannya…”

“Ayah terbaik adalah ia yang menganggap kita masih gadis kecil kesayangannya namun tak dapat memungkiri kedewasaan kita dalam meraih cita-cita… :)”

“Orangtua itu… selalu memberikan dukungan yang terhebat bagi anaknya meski berat untuk melepasnya… makasih banyak yah Pah.. Mah.. :’)”

“Kakak terbaik itu meski merasa kesepian ditinggal adiknya tapi masih mengantar dengan senyuman… makasih kakakku sayang… :’)”

“Adik yang terbaik itu adalah ia yang selalu kecil dalam ingatan.. membuat kita tersenyum bila ingat tingkah lucunya.. dan rindu kembali menjadi anak-anak… :)”

“Bue (baca : kakek) yang terbaik itu adalah ia yang meskipun telah tiada tapi kesan hangatnya tidak pernah lenyap dari ingatan kita… :)”

“Tambi (baca : nenek) terbaik itu adalah ia yang selalu berkata kita orang yang sukses meskipun menurut kita sendiri apa yang telah dicapai masih belum ada apa-apanya… :)”

“Om yang terbaik itu adalah ia yang walaupun jarang berbicara namun tidak pernah absen mengirimkan pesan setiap minggunya mengingatkan untuk mendekatkan diri pada Tuhan… :)”

“Tante yang terbaik itu adalah ia yang selalu bercerita tentang pengalaman hidupnya, berharap agar kita dapat lebih baik dari dirinya, dalam meraih sukses.. :)”

“Sepupu yang terbaik itu adalah ia yang selalu berkembang menjadi lebih baik hingga membuat kita termotivasi untuk menjadi lebih baik pula… :)”

“Sahabat terbaik itu.. adalah ia yang selalu ingat hari penting kita dan tidak pernah lupa memberi semangat… makasih yaahh sahabatku sayang.. :’)”

“Tetangga terbaik itu adalah ia yang selalu ingin tahu kabar kita.. hingga membuat kita berusaha untuk hidup lebih baik agar dapat menjadi kabar yang baik bagi mereka.. :)”

***

Beruntung punya orangtua.. saudara.. dan sahabat yang baik, tulus dan selalu mendukung. I love you all… :*

Itu adalah versi terbaik dari orang-orang yang kusayangi.. Bless them, God… 🙂

Lantas, apa versi terbaikmu bagi mereka, orang-orang yang kamu sayangi? Tulislah agar kamu selalu ingat kepada mereka yang juga sangat menyayangimu.

With Love,

Vivin Vivian

Hey you…! :)

Hello…

This is my first post and gonna be a warm greeting for you all who reading this blog. Thank you so much for visiting 🙂

Menulis bisa dikatakan adalah hobby-ku sedari kecil. Receh demi receh uang sakuku, aku kumpulkan untuk membeli diary, sebuah buku tebal berukuran lebih ringkas dari buku tulis, dengan jilid cover bergambar menarik, dan lembaran kertas berwarna yang menjadi penyemangat untuk bercerita pada masa itu.

Tak terhitung jumlahnya diary yang kumiliki saat itu, namun bisa dihitung dengan jari sisanya yang saat ini masih tersimpan dengan rapih di lemari kayu yang terduduk manis di pojokan kamarku yang minimalis. Banyak cerita disana, yang apabila dibaca kembali sangat menghangatkan, terkadang mengundang gelak tawa dan memunculkan kembali memory-memory usang namun penuh dengan kekonyolan. 🙂

Seiring dengan perkembangan zaman, diary sudah tidak lagi populer. Bertambahnya usia juga membuat keseharianku semakin sibuk dengan aktivitas-aktivitas penting lainnya. Aku berhenti menulis, tidak benar-benar berhenti memang, Aku masih menulis… namun tidak lagi soal peristiwa yang akan menjadi kenangan manis. Aku mulai belajar menulis laporan ilmiah, makalah, karya tulis dan lain sebagainya yang ditugaskan oleh sekolah dan universitas.

Aku masih punya hasrat untuk bercerita, namun terkadang kesibukan dan kemudian rasa lelah yang melanda setelah bekerja seharian, membuatku seakan merasa tidak ada waktu. Aku ingin istirahat, begitu pikirku, saat melihat kasur yang empuk seusai beraktivitas seharian di luar.

Semuanya terasa baik-baik saja, namun mimpi dan cita untuk menuangkan pemikiran yang terus berkelana di kepala karena tiada tempat untuk singgah, terus menerus menghantui. Hal ini berlangsung begitu lama, sehingga kadang aku mulai lupa, dan apabila teringat hanya bisa merenung dan geleng-geleng kepala.

Seseorang kemudian hadir, entah apa sebabnya ia datang menginspirasi, menghidupkan kembali mimpi dan cita tersebut. Terimakasih untuk kamu yang sudah menjadi berkat untukku. 🙂

Kuharap semangat ini akan terus berkobar, tidak mudah padam oleh kesibukan dan rasa malas. Aku sepenuhnya sadar bahwa aku-lah satu-satunya yang memegang kontrol penuh terhadap diriku. Tidak seharusnya mimpi dan cita terkubur selamanya hanya demi menggali lubang kebutuhan yang lain. Justru, mimpi dan cita tersebut harus ditanam dan dipupuk agar menjadi mekar dan indah, tidak hanya indah dipandang mata, namun juga bermanfaat bagi semua.

Demikian, blog ini kemudian lahir, semoga apa yang tertuang di sini, dapat menjadi sumber inspirasi dan manfaat bagi semua. 🙂

Best Regards,

Vivin Vivian